Pengertian
Banyak kawan saya yang bilang ingin punya pasangan yang baik, pengertian, sabar, berkecukupan, cerdas, dan lain-lain yang tentunya bagus-bagus. Ya tentu saja, masak mengharapkan sesuatu yang buruk-buruk. Kali ini, ada satu hal yang menggelitik uneg-une saya, yaitu soal pengertian. Ya pengertian.
Menurut saya, pengertian ini bukan untuk pasangan saja, tapi pada siapa saja yang paling tidak sudah kita kenal dan sering berinteraksi. Mengapa saya mengatakan sudah kenal dan sering berinteraksi? karena yang saya rasakan, konflik tentang pengertian banyak terjadi dengan mereka, lagipula bagaimana kita bisa mengerti kalau tahu saja belum?
Buat saya yang egosentris, hehe… pengertian itu suliiiiitt..sekali. Sering kali saya bilang, "ngertiin saya juga dong, masak mau dingertiin terus". Sehingga mustahil saya jadi orang pengertian kalau saya tidak belajar dan latihan.
Betul sekali kawan, tanpa kita latihan, bagaimana mungkin itu semua bisa terjadi. untuk jadi teman yang pengertian, pasangan yang pengertian, anak yang pengertian, tentu perlu banyak latihan. Dan mudah-mudahan berikutnya hal itu jadi otomatis saja kita lakukan.
Untuk belajar dan latihan itu, cara yang saya anggap paling mujarab untuk dilakukan adalah dengan bertanya pada diri "bagaimana kalau saya jadi dia", setelah itu semuanya akan menjadi lebih ringan. Tentu saja, selain itu, kita juga banyak banyak introspeksi diri dengan bagaimanapun tidak ada orang yang benar-benar sama, sehingga termasuk cara orang menghadapi persoalan pun berbeda-beda.
Namanya juga interaksi sosial, jadi untuk mewujudkan pengertian lebih enak kalau di depan kata itu diberi kata "saling". kalau sudah begitu, hidup jadi lebih ringan, karena tidak berat sebelah, yang satu mau memperbaiki diri, yang satu lagi mau belajar.
Mana bisa punya pasangan yang pengertian kalau kita tidak pengertian? punya ortu yang pengertian kalau kita tidak pengertian? punya teman yang pengertian kalau kita tidak pengertian? Jawabannya adalah mungkin saja, tetapi segera setelah itu keharmonisan tidak bertahan lama, dan mungkin saja akan segera kehilangan. Mau enaknya sendiri saja.
March 3rd, 2008 at 8:52 pm
Pengertian butuh latihan itu benar dan merupakan prosedur standard/umum. Nah sebenarnya latihan itu diperlukan jika satu hal mendasar tidak didapati, yaitu informasi/data/pengetahuan. Jika informasi/data/pengetahuan itu ada dan lengkap, maka sepertinya tidak perlu latihan dan langsung reflek saat itu juga.
Ada cerita, seorang ayah muda dgn anak2nya yg kecil naik kereta (MRT kalo di SG ya?), dan si ayah duduk sambil memperhatikan anak2nya bermain. Dan anak2nya itu ternyata nakal dan cukup mengganggu orang2 yg ada di kereta tsb (misalnya mengambil koran yg sedang dibaca). Dan orang2 di situ semakin tidak suka karena melihat si ayah itu hanya diam sedikit tersenyum melihat anak2nya dgn mata kosong.
Kemudian ada orang yg berani menegur si ayah agar memperhatikan anak2nya itu. Dan si ayah kemudian seperti tersadar dari lamunan dan berkata, “Saya mohon maaf atas perbuatan anak2 saya itu. Saat ini saya tidak tahu harus mengatakan apa kepada anak2 saya tersebut sepulang kami dari rumah sakit di mana ibu anak2 tersebut baru saja meninggal dunia”.
Dan tentu saja teh Ilma bisa menebak apa kemungkinan yang dirasakan dan dilakukan oleh orang2 di kereta tsb langsung setelah mendengar perkataan si ayah tersebut.
March 3rd, 2008 at 10:50 pm
hehehe.. kalau saya yang negur, tetap aja saya ga suka… hahaha..
buat saya, orang yang negur bapaknya itu ga salah-salah amat loh..
coba bapaknya itu menjelaskan ke orang yang ngambil?
yang begini nih kebanyakan… kita lebih seneng berbuat sesuatu kalau udah ada yang negur duluan. bukan mengantisipasi bagaimana agar orang ga negur..hehe..
boleh setuju boleh tidak.. itu juga hanya pendapat pribadi. ketauan kan saya orangnya keras kepala banget..? hehe
yuks ah, salam kenal yah teguh.
March 4th, 2008 at 1:36 am
Iya betul teh. Memang orang di kereta itu benar, yaitu menegur, ya karena ketidaktahuannya itu. Nah bagi saya pribadi sih sungguh suatu yang hebat bisa mengetahui keadaan seseorang tanpa harus sampai menegur dulu kemudian dapat info
Dan kemampuan seperti itu sebenarnya dapat kita capai deh. Dan sepertinya banyak petunjuk2 Quran dan bahkan riwayat nabi yang mengarahkan kita untuk dapat menjadi manusia yang punya sensor yang bagus 
Soal anak2 itu, bisa saja memang si ayah itu tidak memberitahukan kepada si anak bahwa si ibu telah meninggal dunia. Mungkin saja dibilang bahwa ibu sedang tidur panjang. Dan banyak kemungkinan2 lainnya. Yah soal info dan kemampuan kita untuk bisa memperkirakan jawaban2 apa yang bisa/dapat ada.
Ya seperti yang teh Mia bilang “bagaimana kalau saya jadi dia”, itu sebenarnya adalah simulasi untuk mencari jawaban2 yang mungkin ada.
Jadi dengan adanya pengetahuan/informasi, ada 2 hal :
- Mengurangi response-time (lebih mudah) berempati/bersikap
- Lebih efektif dan efisien jika mampu membantu, karena sudah lebih jelas masalahnya.
O ya, saya juga belum sampai setinggi itu lho teh. Saya hanya baru saja sampai berteori dan masih belajar untuk bisa mencapainya.
Salam kenal juga teh Mia.